PANDANGAN MASYARAKAT JEPANG
TERHADAP AGAMA
Jepang
adalah negara sekuler, yang berarti negara tidak ikut campur masalah agama.
Dalam setiap data pemerintahan atau surat surat resmi lainya
tentang identitas penduduk, masalah agama tidak dicantumkan dan juga tidak akan
pernah ditanyakan. Dalam sistem pendidikan, mata pelajaran agama, sebagai mata
pelajaran tersendiri, seperti sistem pendidikan di Indonesia, tidak dikenal. Agama hanya
diajarkan sebagai bagian dari mata pelajaran sejarah, sedang dalam kehidupan
masyarakat, agama digolongkan sebagai kegiatan budaya. Dalam hal agama, orang
Jepang cenderung bersikap dingin dan tidak peduli. Bagi mereka agama tidaklah
cukup atau mungkin juga dianggap tidak akan bisa mengatasi permasalahan sehari
hari seperti pelajaran di sekolah atau masalah di tempat kerja. Bahkan ada
sebagian kecil pendapat yang mengatakan, agama adalah untuk orang yang
mengalami gangguan jiwa. Mungkin bagi masyarakat Indonesia pernyataan tersebut
dinilai sangat tidak wajar.
Agama
kadang dilihat sebagai sesuatu yang negatif dan berbahaya, terutama sejak
munculnya kasus gerakan Aum Shinrikyo yang terkenal dengan serangan gas
sharinnya. Teror dan perang atas nama agama yang banyak terjadi belahan dunia
lain, tampaknya seperti membenarkan pendapat meraka dan membuat kecurigaan
mereka agama seakan mendapat tempat. Jika ditanya masalah agama,
masyarakat Jepang bingung untuk menjawabnya karena mereka lebih menganggap
agama itu hanya formalitas dan kebutuhan saja bukan sebagai keyakinan, tetapi
ada juga yang menjawab “agama saya Kristen” dan ada juga yang menjawab “ agama
saya Budha ” jawaban yang seperti inilah yang membuat kita bingung, sebenarnya
agama masyarakat Jepang itu apa? Mereka mengaku agama Kristen karena pada saat
melangsungkan pernikahan mereka menggunakan ritual atau adat dari agama
Kristen. Sedangkan dalam upacara kematian mereka menggunakan ritual agama
Budha.
Bagi
kebanyakan orang jepang, agama adalah suatu kebebasan. Dengan beragama jiwa
menjadi bebas. Siapapun bisa datang dengan bebas ke kuil manapun dan kapan saja
untuk berdoa seperti yang umum dilakukan oleh kebanyakan orang Jepang.
Berkunjung ke kuil, bukan untuk berdoa tetapi hanya untuk rekreasi atau sekedar
mengambil foto saja, yang bukan hanya dilakukan oleh orang asing tapi kadang
oleh orang Jepang sendiri.
Namun
walaupun kehidupan beragama mereka bebas, dalam tata krama etika sopan santun
berprilaku dan berbahasa sangat ketat bahkan bisa dikatakan keterlaluan. Dalam
percakapan bahasa Jepang untuk diri sendiri dipakai kata yang biasa sedangkan
untuk orang lain dipakai kata bentuk halus sebagai tanda menghargai atau
hormat. Pilihan kata yang salah atau terbalik dianggap sebagai tidak tahu
manner atau tidak sopan, tanpa peduli betapa seringnya anda sembahyang.
Tolerasi
Kehidupan Beragama, ketika zaman Edo (1603 - 1868) agama Kristen dilarang keras
oleh pemerintah Shogun. Pengikutnya dihukum mati atau diusir ke luar Jepang,
namun sekarang hal itu tampaknya tidak terjadi lagi. Gereja dapat kita temukan
di banyak tempat, bersebelahan dengan kuil atau jinja. Jadi secara umum,
tolerasi kehidupan beragama dapat dikatakan sangat bagus. Perusakan dan
pembakaran tempat ibadah agama lain, yang dahulu sering terjadi hampir tidak
kita temukan sekarang ini. Memang urusan agama adalah urusan individu yang
tidak akan dicampuri oleh pemerintahnya, yang berarti perlakuan khusus,
permohonan ruang, waktu atau libur khusus sembahyang bagi yang bekerja
misalnya, berarti juga tidak ada. Tidak mengenal hukum dosa adalah sebuah bukti
bahwa tradisi Shinto yang bergabung dengan Buddha amat lekat dihati masyarakat
Jepang.
No comments:
Post a Comment