Thursday, May 30, 2013

PANDANGAN MASYARAKAT JEPANG TERHADAP AGAMA



PANDANGAN MASYARAKAT JEPANG TERHADAP AGAMA

            Jepang adalah negara sekuler, yang berarti negara tidak ikut campur masalah agama. Dalam setiap data pemerintahan atau surat surat resmi lainya tentang identitas penduduk, masalah agama tidak dicantumkan dan juga tidak akan pernah ditanyakan. Dalam sistem pendidikan, mata pelajaran agama, sebagai mata pelajaran tersendiri, seperti sistem pendidikan di Indonesia, tidak dikenal. Agama hanya diajarkan sebagai bagian dari mata pelajaran sejarah, sedang dalam kehidupan masyarakat, agama digolongkan sebagai kegiatan budaya. Dalam hal agama, orang Jepang cenderung bersikap dingin dan tidak peduli. Bagi mereka agama tidaklah cukup atau mungkin juga dianggap tidak akan bisa mengatasi permasalahan sehari hari seperti pelajaran di sekolah atau masalah di tempat kerja. Bahkan ada sebagian kecil pendapat yang mengatakan, agama adalah untuk orang yang mengalami gangguan jiwa. Mungkin bagi masyarakat Indonesia pernyataan tersebut dinilai sangat tidak wajar.
            Agama kadang dilihat sebagai sesuatu yang negatif dan berbahaya, terutama sejak munculnya kasus gerakan Aum Shinrikyo yang terkenal dengan serangan gas sharinnya. Teror dan perang atas nama agama yang banyak terjadi belahan dunia lain, tampaknya seperti membenarkan pendapat meraka dan membuat kecurigaan mereka agama seakan mendapat tempat. Jika ditanya masalah agama, masyarakat Jepang bingung untuk menjawabnya karena mereka lebih menganggap agama itu hanya formalitas dan kebutuhan saja bukan sebagai keyakinan, tetapi ada juga yang menjawab “agama saya Kristen” dan ada juga yang menjawab “ agama saya Budha ” jawaban yang seperti inilah yang membuat kita bingung, sebenarnya agama masyarakat Jepang itu apa? Mereka mengaku agama Kristen karena pada saat melangsungkan pernikahan mereka menggunakan ritual atau adat dari agama Kristen. Sedangkan dalam upacara kematian mereka menggunakan ritual agama Budha.
            Bagi kebanyakan orang jepang, agama adalah suatu kebebasan. Dengan beragama jiwa menjadi bebas. Siapapun bisa datang dengan bebas ke kuil manapun dan kapan saja untuk berdoa seperti yang umum dilakukan oleh kebanyakan orang Jepang. Berkunjung ke kuil, bukan untuk berdoa tetapi hanya untuk rekreasi atau sekedar mengambil foto saja, yang bukan hanya dilakukan oleh orang asing tapi kadang oleh orang Jepang sendiri.
            Namun walaupun kehidupan beragama mereka bebas, dalam tata krama etika sopan santun berprilaku dan berbahasa sangat ketat bahkan bisa dikatakan keterlaluan. Dalam percakapan bahasa Jepang untuk diri sendiri dipakai kata yang biasa sedangkan untuk orang lain dipakai kata bentuk halus sebagai tanda menghargai atau hormat. Pilihan kata yang salah atau terbalik dianggap sebagai tidak tahu manner atau tidak sopan, tanpa peduli betapa seringnya anda sembahyang.
            Tolerasi Kehidupan Beragama, ketika zaman Edo (1603 - 1868) agama Kristen dilarang keras oleh pemerintah Shogun. Pengikutnya dihukum mati atau diusir ke luar Jepang, namun sekarang hal itu tampaknya tidak terjadi lagi. Gereja dapat kita temukan di banyak tempat, bersebelahan dengan kuil atau jinja. Jadi secara umum, tolerasi kehidupan beragama dapat dikatakan sangat bagus. Perusakan dan pembakaran tempat ibadah agama lain, yang dahulu sering terjadi hampir tidak kita temukan sekarang ini. Memang urusan agama adalah urusan individu yang tidak akan dicampuri oleh pemerintahnya, yang berarti perlakuan khusus, permohonan ruang, waktu atau libur khusus sembahyang bagi yang bekerja misalnya, berarti juga tidak ada. Tidak mengenal hukum dosa adalah sebuah bukti bahwa tradisi Shinto yang bergabung dengan Buddha amat lekat dihati masyarakat Jepang. 
credit:  id.shvoong.com, sekedarwawasan.blogspot.com

No comments:

Post a Comment