Thursday, May 30, 2013

Pola Kalimat Dalam Bahasa Jepang



1.    ~ んですか
       Pola kalimat ini digunakan untuk meminta penjelasan, menjelaskan informasi yang lebih jelas, menjelaskan tentang suatu keadaan.
       Contoh:  1.  どうしてはたらくないんですか。
                          ( Mengapa tidak bekerja? )
                          あたまがいたいんですから。
                          ( Karena sedang sakit kepala )
                     2.  すてきなとけいですね。どこでかったんですか。
                          ( Jamnya bagus ya. Beli dimana? )
                          Kings でかいました。
                          ( Saya beli di Kings )

2.    ~んです
       Pola kalimat ini untuk menjelaskan alasan atau sebab.
       Contoh:  1.  どうしていかないんですか。
                          ( Mengapa tidak datang? )
                          やくそくがあるんですから。
                          ( Karena ada janji )

3.    ~ていただけませんか
       Pola kalimat ini merupakan permintaan permohonan. Kalimat ini lebih sopan dibandingkan ~ください.
       Contoh:  1.  けいたいでんわをかいたいんですが、いいみせのばしょをおしえていただ けませんか。
                          ( Saya ingin membeli hp, tolong beritahu saya toko yang bagus )

4.    ~たらいいですか
       Pola kalimat ini digunakan untuk meminta nasihat atau pendapat.
       Contoh:  1.  けいたいでんわを買いたいんですが、どこで買ったらいいですか。
                          ( Saya ingin membeli hp, dimana sebaiknya saya membelinya? )
                          BECでかったらいいとおもいますよ。
                          ( Sebaiknya beli di BEC ).

5.    ~えます、~られます
       Pola kalimat ini merupakan bentuk lain dari ことができます. Golongan pertama kata ~います           diganti dengan kata ~えます. Golongan kedua dilanjutkan dengan ~られます. Yang spesial           hanya きますdan します  yang berubah menjadi こられます dan できます.
       Contoh:  1.  私は日本語がはなせます。
                          ( Saya dapat berbicara bahasa Jepang )
                     2.  すしがたべられます。
                          ( Dapat memakan sushi )
                     3. 昨日私は山田さんのうちにこられない。
                          ( Kemarin saya tidak dapat datang ke rumah Sdr. Yamada )

6.    ~できます
       Kata kerja ini bermakna muncul, rampung, selesai.
       Contoh:  1.  Ciwalkのなかにえいがかんができました。
                          ( Di dalam Ciwalk telah berdiri gedung bioskop )

7.    ~しか~
       Pola kalimat ini hampir sama dengan だけ tetapi しか digunakan untuk yang negatif sedangkan           だけdigunakan untuk yang positif.
       Contoh:  1.  日本語しかはなせません。
                          ( Saya tidak dapat berbicara bahasa lain selain bahasa Jepang)
                     2.  日本語だけはなせます。
                          ( Saya hanya dapat berbicara bahasa Jepang )

8.    ~ ~ ~
       Pola kalimat ini digunakan untuk menyatakan perbandingan.
       Contoh:  1.  日本語が話せますが、かんこくごがはなせません。
                          ( Saya dapat berbicara bahasa Jepang, tetapi tidak dapat berbicara bahasa Korea )
                     2.  ( テニスができますが、バドミントンができません。
                          ( Saya dapat bermain tenis, tetapi tidak dapat bermain badminton ) 
9.    ~~
       Partikel menggantikan partikel dan .
       Contoh:  1.  私は英語が話せます。日本語も話せます。
                          ( Saya dapat berbicara bahasa Inggris, dan juga dapat berbicara bahasa Jepang )
                     2.  田中さんわテニスができます。バドミントンもできます。
                          ( Sdr. Tanaka dapat bermain tenis, ia juga dapat bermain badminton )

SIFAT BANGSA JEPANG DAN PERBEDAAN KEBIASAAN BANGSA JEPANG DENGAN BANGSA INDONESIA



SIFAT BANGSA JEPANG DAN PERBEDAAN KEBIASAAN BANGSA JEPANG DENGAN BANGSA INDONESIA

            Kebiasaan orang Jepang dengan orang Indonesia ternyata memiliki perbedaan yang cukup jauh. Sesuai faktanya bahwa orang Jepang terkenal lebih disiplin, lebih bagus, maju dibandingkan dengan orang Indonesia. Itu sudah jelas dan terbukti bahwa negara Jepang memang benar-benar maju saat ini. Dalam hal kebiasaan pun orang Indonesia masih kalah dengan kebiasaan orang Jepang, seperti:
1. Ketika di kendaraan umum
Orang Jepang terbiasa membaca buku atau tidur sedangkan orang Indonesia mengobrol dan memainkan handphone.
2. Ketika makan di kendaraan umum
     Orang Jepang terbiasa menyimpan sisa makanan di dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian akan dibuang setelah menemukan tempat sampah, sedangkan orang Indonesia membuang sampah sembarangan.
3. Ketika di kelas
     Ketika dosen menjelaskan perkuliahan semua mahasiswa Jepang serius dan fokus mendengarkan dan menyimak, sedangkan mahasiswa Indonesia lebih banyak bergurau atau tidur.
4. Ketika berjalan di pagi hari
Orang Jepang berjalan sangat cepat karena khawatir telat ke kantor atau ke sekolah, sedangkan orang Indonesia berjalan dengan santai tidak khawatir terlambat.  
           
            Walaupun Jepang pernah menjajah bangsa Indonesia, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa Jepang telah menjadi salah satu bangsa paling modern dan paling maju peradabannya di dunia sekarang ini. Oleh karena itu tidak ada salahnya bagi kita untuk mencontoh sifat-sifat orang Jepang seperti sekarang ini. Berikut beberapa sifat orang Jepang yang patut di contoh:
1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan Amerika.
2. Malu
     Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengna menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesempatan ini.
3. Hidup Hemat
     Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai segi kehidupan.
4. Loyalitas
Loyalitas membuat system karir di perusahaan berjalan dan bertata dengan rapi sedikit berbeda dengan system di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.
5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tetapi orang Jepang memiliki kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.
6. Pantang Menyerah
     Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam tekhnologi. Namun pada masa Restorasi Meiji Jepang mampu beradaptasi dan maju dengan cepat.
7. Budaya Baca
     Di waktu luang orang Jepang cenderung terbiasa untuk memanfaatkan waktu dengan membaca.
8. Kerjasama Kelompok
     Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistic, termasuk klaim hasil pekerjaan.
9. Mandiri
     Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Contohnya seperti ketika pergi ke sekolah anak-anak diajarkan untuk menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri seperti buku , seragam, dan lainnya.
10. Jaga Tradisi
Perkembangan tekhnologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya minta maaf masih menjadi kebiasaan orang Jepang. 
 credit : (id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Jepang, mujahidsamurai.multiply.com, www.waloetz.com)

PANDANGAN MASYARAKAT JEPANG TERHADAP AGAMA



PANDANGAN MASYARAKAT JEPANG TERHADAP AGAMA

            Jepang adalah negara sekuler, yang berarti negara tidak ikut campur masalah agama. Dalam setiap data pemerintahan atau surat surat resmi lainya tentang identitas penduduk, masalah agama tidak dicantumkan dan juga tidak akan pernah ditanyakan. Dalam sistem pendidikan, mata pelajaran agama, sebagai mata pelajaran tersendiri, seperti sistem pendidikan di Indonesia, tidak dikenal. Agama hanya diajarkan sebagai bagian dari mata pelajaran sejarah, sedang dalam kehidupan masyarakat, agama digolongkan sebagai kegiatan budaya. Dalam hal agama, orang Jepang cenderung bersikap dingin dan tidak peduli. Bagi mereka agama tidaklah cukup atau mungkin juga dianggap tidak akan bisa mengatasi permasalahan sehari hari seperti pelajaran di sekolah atau masalah di tempat kerja. Bahkan ada sebagian kecil pendapat yang mengatakan, agama adalah untuk orang yang mengalami gangguan jiwa. Mungkin bagi masyarakat Indonesia pernyataan tersebut dinilai sangat tidak wajar.
            Agama kadang dilihat sebagai sesuatu yang negatif dan berbahaya, terutama sejak munculnya kasus gerakan Aum Shinrikyo yang terkenal dengan serangan gas sharinnya. Teror dan perang atas nama agama yang banyak terjadi belahan dunia lain, tampaknya seperti membenarkan pendapat meraka dan membuat kecurigaan mereka agama seakan mendapat tempat. Jika ditanya masalah agama, masyarakat Jepang bingung untuk menjawabnya karena mereka lebih menganggap agama itu hanya formalitas dan kebutuhan saja bukan sebagai keyakinan, tetapi ada juga yang menjawab “agama saya Kristen” dan ada juga yang menjawab “ agama saya Budha ” jawaban yang seperti inilah yang membuat kita bingung, sebenarnya agama masyarakat Jepang itu apa? Mereka mengaku agama Kristen karena pada saat melangsungkan pernikahan mereka menggunakan ritual atau adat dari agama Kristen. Sedangkan dalam upacara kematian mereka menggunakan ritual agama Budha.
            Bagi kebanyakan orang jepang, agama adalah suatu kebebasan. Dengan beragama jiwa menjadi bebas. Siapapun bisa datang dengan bebas ke kuil manapun dan kapan saja untuk berdoa seperti yang umum dilakukan oleh kebanyakan orang Jepang. Berkunjung ke kuil, bukan untuk berdoa tetapi hanya untuk rekreasi atau sekedar mengambil foto saja, yang bukan hanya dilakukan oleh orang asing tapi kadang oleh orang Jepang sendiri.
            Namun walaupun kehidupan beragama mereka bebas, dalam tata krama etika sopan santun berprilaku dan berbahasa sangat ketat bahkan bisa dikatakan keterlaluan. Dalam percakapan bahasa Jepang untuk diri sendiri dipakai kata yang biasa sedangkan untuk orang lain dipakai kata bentuk halus sebagai tanda menghargai atau hormat. Pilihan kata yang salah atau terbalik dianggap sebagai tidak tahu manner atau tidak sopan, tanpa peduli betapa seringnya anda sembahyang.
            Tolerasi Kehidupan Beragama, ketika zaman Edo (1603 - 1868) agama Kristen dilarang keras oleh pemerintah Shogun. Pengikutnya dihukum mati atau diusir ke luar Jepang, namun sekarang hal itu tampaknya tidak terjadi lagi. Gereja dapat kita temukan di banyak tempat, bersebelahan dengan kuil atau jinja. Jadi secara umum, tolerasi kehidupan beragama dapat dikatakan sangat bagus. Perusakan dan pembakaran tempat ibadah agama lain, yang dahulu sering terjadi hampir tidak kita temukan sekarang ini. Memang urusan agama adalah urusan individu yang tidak akan dicampuri oleh pemerintahnya, yang berarti perlakuan khusus, permohonan ruang, waktu atau libur khusus sembahyang bagi yang bekerja misalnya, berarti juga tidak ada. Tidak mengenal hukum dosa adalah sebuah bukti bahwa tradisi Shinto yang bergabung dengan Buddha amat lekat dihati masyarakat Jepang. 
credit:  id.shvoong.com, sekedarwawasan.blogspot.com