Sunday, June 2, 2013
Thursday, May 30, 2013
Pola Kalimat Dalam Bahasa Jepang
1. ~ んですか
Pola
kalimat ini digunakan untuk meminta penjelasan, menjelaskan informasi yang
lebih jelas, menjelaskan tentang suatu
keadaan.
Contoh: 1. どうしてはたらくないんですか。
(
Mengapa tidak bekerja? )
あたまがいたいんですから。
(
Karena sedang sakit kepala )
2. すてきなとけいですね。どこでかったんですか。
(
Jamnya bagus ya. Beli dimana? )
Kings
でかいました。
(
Saya beli di Kings )
2. ~んです
Pola
kalimat ini untuk menjelaskan alasan atau sebab.
Contoh: 1. どうしていかないんですか。
(
Mengapa tidak datang? )
やくそくがあるんですから。
(
Karena ada janji )
3. ~ていただけませんか
Pola
kalimat ini merupakan permintaan permohonan. Kalimat ini lebih sopan
dibandingkan ~てください.
Contoh: 1. けいたいでんわをかいたいんですが、いいみせのばしょをおしえていただ けませんか。
(
Saya ingin membeli hp, tolong beritahu saya toko yang bagus )
4. ~たらいいですか
Pola
kalimat ini digunakan untuk meminta nasihat atau pendapat.
Contoh: 1. けいたいでんわを買いたいんですが、どこで買ったらいいですか。
(
Saya ingin membeli hp, dimana sebaiknya saya membelinya? )
BECでかったらいいとおもいますよ。
(
Sebaiknya beli di BEC ).
5. ~えます、~られます
Pola
kalimat ini merupakan bentuk lain dari ことができます. Golongan pertama kata ~います diganti
dengan kata ~えます.
Golongan kedua dilanjutkan dengan ~られます. Yang spesial hanya
きますdan します
yang berubah menjadi こられます dan できます.
Contoh: 1. 私は日本語がはなせます。
(
Saya dapat berbicara bahasa Jepang )
2. すしがたべられます。
(
Dapat memakan sushi )
3. 昨日私は山田さんのうちにこられない。
(
Kemarin saya tidak dapat datang ke rumah Sdr. Yamada )
6. ~できます
Kata
kerja ini bermakna muncul, rampung, selesai.
Contoh: 1. Ciwalkのなかにえいがかんができました。
(
Di dalam Ciwalk telah berdiri gedung bioskop )
7. ~しか~
Pola
kalimat ini hampir sama dengan だけ
tetapi しか
digunakan untuk yang negatif sedangkan だけdigunakan untuk yang positif.
Contoh: 1. 日本語しかはなせません。
(
Saya tidak dapat berbicara bahasa lain selain bahasa Jepang)
2. 日本語だけはなせます。
(
Saya hanya dapat berbicara bahasa Jepang )
8. ~は ~が ~は
Pola
kalimat ini digunakan untuk menyatakan perbandingan.
Contoh: 1. 日本語が話せますが、かんこくごがはなせません。
(
Saya dapat berbicara bahasa Jepang, tetapi tidak dapat berbicara bahasa Korea )
2. ( テニスができますが、バドミントンができません。
(
Saya dapat bermain tenis, tetapi tidak dapat bermain badminton )
9. ~も~
Partikel
も menggantikan partikel を dan が.
Contoh: 1. 私は英語が話せます。日本語も話せます。
(
Saya dapat berbicara bahasa Inggris, dan juga dapat berbicara bahasa Jepang )
2. 田中さんわテニスができます。バドミントンもできます。
(
Sdr. Tanaka dapat bermain tenis, ia juga dapat bermain badminton )
SIFAT BANGSA JEPANG DAN PERBEDAAN KEBIASAAN BANGSA JEPANG DENGAN BANGSA INDONESIA
SIFAT BANGSA JEPANG DAN PERBEDAAN
KEBIASAAN BANGSA JEPANG DENGAN BANGSA INDONESIA
Kebiasaan
orang Jepang dengan orang Indonesia
ternyata memiliki perbedaan yang cukup jauh. Sesuai faktanya bahwa orang Jepang
terkenal lebih disiplin, lebih bagus, maju dibandingkan dengan orang Indonesia. Itu
sudah jelas dan terbukti bahwa negara Jepang memang benar-benar maju saat ini.
Dalam hal kebiasaan pun orang Indonesia
masih kalah dengan kebiasaan orang Jepang, seperti:
1. Ketika di kendaraan umum
Orang Jepang terbiasa membaca
buku atau tidur sedangkan orang Indonesia
mengobrol dan memainkan handphone.
2. Ketika makan di kendaraan umum
Orang Jepang terbiasa menyimpan sisa
makanan di dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian akan
dibuang setelah menemukan tempat sampah, sedangkan orang Indonesia membuang
sampah sembarangan.
3. Ketika di kelas
Ketika dosen menjelaskan perkuliahan semua
mahasiswa Jepang serius dan fokus mendengarkan dan menyimak, sedangkan
mahasiswa Indonesia lebih banyak bergurau atau tidur.
4. Ketika berjalan di pagi hari
Orang Jepang berjalan sangat
cepat karena khawatir telat ke kantor atau ke sekolah, sedangkan orang
Indonesia berjalan dengan santai tidak khawatir terlambat.
Walaupun
Jepang pernah menjajah bangsa Indonesia, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa
bangsa Jepang telah menjadi salah satu bangsa paling modern dan paling maju
peradabannya di dunia sekarang ini. Oleh karena itu tidak ada salahnya bagi
kita untuk mencontoh sifat-sifat orang Jepang seperti sekarang ini. Berikut
beberapa sifat orang Jepang yang patut di contoh:
1. Kerja Keras
Sudah menjadi rahasia umum
bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang
adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan Amerika.
2. Malu
Malu adalah budaya
leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengna menusukkan
pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah
dalam pertempuran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar
peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesempatan ini.
3. Hidup Hemat
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat
dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai
segi kehidupan.
4. Loyalitas
Loyalitas membuat system
karir di perusahaan berjalan dan bertata dengan rapi sedikit berbeda dengan
system di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah
pekerjaan.
5. Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu,
tetapi orang Jepang memiliki kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian
memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.
6. Pantang Menyerah
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk
bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun di bawah
kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses luar negeri, Jepang sangat
tertinggal dalam tekhnologi. Namun pada masa Restorasi Meiji Jepang mampu
beradaptasi dan maju dengan cepat.
7. Budaya Baca
Di waktu luang orang Jepang cenderung
terbiasa untuk memanfaatkan waktu dengan membaca.
8. Kerjasama Kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu
mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistic, termasuk klaim
hasil pekerjaan.
9. Mandiri
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk
mandiri. Contohnya seperti ketika pergi ke sekolah anak-anak diajarkan untuk
menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri seperti buku , seragam, dan lainnya.
10. Jaga Tradisi
Perkembangan tekhnologi dan
ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya
minta maaf masih menjadi kebiasaan orang Jepang.
PANDANGAN MASYARAKAT JEPANG TERHADAP AGAMA
PANDANGAN MASYARAKAT JEPANG
TERHADAP AGAMA
Jepang
adalah negara sekuler, yang berarti negara tidak ikut campur masalah agama.
Dalam setiap data pemerintahan atau surat surat resmi lainya
tentang identitas penduduk, masalah agama tidak dicantumkan dan juga tidak akan
pernah ditanyakan. Dalam sistem pendidikan, mata pelajaran agama, sebagai mata
pelajaran tersendiri, seperti sistem pendidikan di Indonesia, tidak dikenal. Agama hanya
diajarkan sebagai bagian dari mata pelajaran sejarah, sedang dalam kehidupan
masyarakat, agama digolongkan sebagai kegiatan budaya. Dalam hal agama, orang
Jepang cenderung bersikap dingin dan tidak peduli. Bagi mereka agama tidaklah
cukup atau mungkin juga dianggap tidak akan bisa mengatasi permasalahan sehari
hari seperti pelajaran di sekolah atau masalah di tempat kerja. Bahkan ada
sebagian kecil pendapat yang mengatakan, agama adalah untuk orang yang
mengalami gangguan jiwa. Mungkin bagi masyarakat Indonesia pernyataan tersebut
dinilai sangat tidak wajar.
Agama
kadang dilihat sebagai sesuatu yang negatif dan berbahaya, terutama sejak
munculnya kasus gerakan Aum Shinrikyo yang terkenal dengan serangan gas
sharinnya. Teror dan perang atas nama agama yang banyak terjadi belahan dunia
lain, tampaknya seperti membenarkan pendapat meraka dan membuat kecurigaan
mereka agama seakan mendapat tempat. Jika ditanya masalah agama,
masyarakat Jepang bingung untuk menjawabnya karena mereka lebih menganggap
agama itu hanya formalitas dan kebutuhan saja bukan sebagai keyakinan, tetapi
ada juga yang menjawab “agama saya Kristen” dan ada juga yang menjawab “ agama
saya Budha ” jawaban yang seperti inilah yang membuat kita bingung, sebenarnya
agama masyarakat Jepang itu apa? Mereka mengaku agama Kristen karena pada saat
melangsungkan pernikahan mereka menggunakan ritual atau adat dari agama
Kristen. Sedangkan dalam upacara kematian mereka menggunakan ritual agama
Budha.
Bagi
kebanyakan orang jepang, agama adalah suatu kebebasan. Dengan beragama jiwa
menjadi bebas. Siapapun bisa datang dengan bebas ke kuil manapun dan kapan saja
untuk berdoa seperti yang umum dilakukan oleh kebanyakan orang Jepang.
Berkunjung ke kuil, bukan untuk berdoa tetapi hanya untuk rekreasi atau sekedar
mengambil foto saja, yang bukan hanya dilakukan oleh orang asing tapi kadang
oleh orang Jepang sendiri.
Namun
walaupun kehidupan beragama mereka bebas, dalam tata krama etika sopan santun
berprilaku dan berbahasa sangat ketat bahkan bisa dikatakan keterlaluan. Dalam
percakapan bahasa Jepang untuk diri sendiri dipakai kata yang biasa sedangkan
untuk orang lain dipakai kata bentuk halus sebagai tanda menghargai atau
hormat. Pilihan kata yang salah atau terbalik dianggap sebagai tidak tahu
manner atau tidak sopan, tanpa peduli betapa seringnya anda sembahyang.
Tolerasi
Kehidupan Beragama, ketika zaman Edo (1603 - 1868) agama Kristen dilarang keras
oleh pemerintah Shogun. Pengikutnya dihukum mati atau diusir ke luar Jepang,
namun sekarang hal itu tampaknya tidak terjadi lagi. Gereja dapat kita temukan
di banyak tempat, bersebelahan dengan kuil atau jinja. Jadi secara umum,
tolerasi kehidupan beragama dapat dikatakan sangat bagus. Perusakan dan
pembakaran tempat ibadah agama lain, yang dahulu sering terjadi hampir tidak
kita temukan sekarang ini. Memang urusan agama adalah urusan individu yang
tidak akan dicampuri oleh pemerintahnya, yang berarti perlakuan khusus,
permohonan ruang, waktu atau libur khusus sembahyang bagi yang bekerja
misalnya, berarti juga tidak ada. Tidak mengenal hukum dosa adalah sebuah bukti
bahwa tradisi Shinto yang bergabung dengan Buddha amat lekat dihati masyarakat
Jepang.
Subscribe to:
Posts (Atom)